Aneh

Banyak orang yang mengaku terobsesi realitas…tapi bila bicara tetap tidak bisa netral. Dia bilang tidak percaya Tuhan apalagi agama, tapi kalo bicara seolah – olah dia bicara atas ‘agama’ juga. Agamanya yaitu ‘anti agama’.

Dia bilang tidak suka dogma dan tidak suka bila ada orang yang mencoba ‘sok’ menyebarkan dogma pada orang lain, tapi ternyata dia sendiri dogmatis dengan dogma nya ‘anti dogma’.

Ketika ada seseorang yang dikeroyok oleh sekelompok orang lain karena dianggap melanggar kekhusyuan hari raya mereka dengan berkendaraan melewati daerah masyarakat yang berhari raya itu, aku bilang atas nama toleransi dan saling menghormati orang lain, aku jelas mengutuk bentuk kekerasan itu, tapi aku juga  menyalahkan orang yang dikeroyok itu…terlepas dari siapa dia atau agama apa dia….i don’t give a damn. Karena, aku yakin bahwa ketika dia menyetir mobil di hari itu, pastinya dia sadar bahwa tindakannya itu dapat menyulut keributan. Tapi toh tetap dia lakukan, dan VOILA !!! Pointnya adalah bagaimana berinteraksi dalam masyarakat sosial yang nota bene sensitif karena konflik yang ‘abadi’ ini. Intinya, aku mau setiap orang melakukan sesuatu dimulai dari diri kita sendiri. Omong kosong dengan rasa hormat dan toleransi bila tidak kita mulai dari diri sendiri.

Tapi saudara saudara, dia malah berbicara tentang pertentangan agama dan ras yang terjadi di sana, dan malah menyalahkan agama tertentu yang dianggap terlalu sok mendominasi. Hmmm….apa masih relevan bicara atas nama agama dalam situasi kacau seperti ini ?

Dan, aku masih belum yakin apakah perbedaan ini mampu diatasi, aku cuma merasa bahwa ketika diskusi ini terjadi yang ada di benaknya adalah dia percaya islam melegalisasi kekerasan, seperti yang selama hidupnya dia saksikan banyak kekerasan atas nama agama di negara nya. Then i rest my case.

Jangan kebencian mu terhadap suatu kaum menjadikan kamu berlaku tidak adil. Kira kira itu juga point nya. Anda tidak harus mengerti apa yang saya tulis. Ini hanya sebuah catatan tak penting dari diskusi kemarin dengan seseorang.

Wassalam 

3 thoughts on “Aneh

  1. Hangga, masalahnya saya yang ‘sok’ agamis dan dia yang dari golongan netral, harusnya pendapat kita terbalik…karena pendapat saya itu cocoknya untuk orang yang sekuler😀 , sedangkan dia…pendapat dia masih belum bisa dibilang netral, mengingat background dia sebagai atheis. Jadi inget si Retorika kalo bicara sekuler…😀

    Makasih bro…

    Wassalam

  2. wah wah… kuk tumben postingna pakai bahasa Indonesia😀

    RS >> maunya sih pake bahasa jerman…tapi engga bisa tuh Jo…😀 :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s